10 April 2013

Mengenali Batuk pada Bayi


Menurut Wikipedia, batuk bukanlah suatu penyakit. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.
Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.
Pada bayi, tentu saja batuk menjadi hal yang sangat menyiksa. Begitu pula dengan orang dewasa. Bedanya, orang dewasa bisa lebih mudah mencari dan mengonsumsi obat yang sesuai. Sebab pertahanan tubuh orang dewasa sangatlah berbeda dengan pertahanan tubuh bayi. Oleh karenanya, obat yang digunakan untuk mengatasi batuk pada bayi juga bukan sembarang obat. Bukan obat yang sama seperti obat orang dewasa.
Pemakaian obat-obat kimia untuk bayi tentu masih sangat dihindari. Sebab bayi masih sangat rentan dengan hal itu. Kalaupun memang tidak ada jalan lain selain menggunakan obat kimia, tentulah dengan dosis dan takaran yang tidak sama dengan takaran orang dewasa.
Ada baiknya, saat bayi menderita batuk, orang tua terlebih dahulu mencoba mengatasinya dengan penggunaan obat herbal atau obat tradisional. Sebab diharapkan obat herbal atau obat tradisional tidak menimbulkan efek samping untuk bayi.
Sebagai referensi, beberapa obat tradisional untuk mengatasi batuk pada bayi diataranya dengan memberikan perasan jeruk nipis dicampur dengan madu. Sebaiknya jangan terlalu banyak, sebab yang ditakutkan si bayi akan kesulitan menelan. Jika dalam 3 hari batuk tidak berkurang juga, orang tua bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan solusi terbaik. Atau bisa juga dengan mengurut-urut badan bayi dengan menggunakan bawang. Agar menimbulkan efek hangat pada badan bayi.

27 Maret 2013

Curhatan Rabu Penuh Cinta...

Alhamdulillah... nikmatnya malam-Mu ini Rabb...

Semalam ini, aku masih bisa dengan lincahnya menarikan jemari di atas keyboard, di temani nyanyian binatang malam dan gerakan-gerakan alam bawah sadar jiwa-jiwa yang kucintai. Aqilah dan Abu Aqilah, lelakiku.

Aku ingin bercerita tentang mimpi. Dimana kini aku tengah berlari mengejarnya. Aku tak ingin ketinggalan kereta. Bukan pula bermaksud untuk tergesa-gesa. Nyatanya selama ini aku sudah terlalu lama termangu tanpa upaya untuk bangkit. Dan untuk membayarnya, kini aku harus menyediakan porsi tenaga superbesar untuk bisa berlari, mengejar mimpi.

Nyatanya, sedikit bisa kugenggam. Sekalipun ketar-ketir, berharap genggamanku bisa semakin mengencang hingga bisa memuat lebih banyak impian tanpa takut, kepingannya terjatuh dan hilang. Do'a dan usaha, kuyakini itu sebagai kuncinya. Ridho suami dan ridho orangtua. Itu juga kuncinya.

Kau tau kawan, tiap kali aku akan mengirimkan tulisanku untuk event yang sangat sederhana sekalipun, aku selalu menyempatkan diri untuk meminta restu ibuku, juga suamiku. Bahkan ibuku sampai bertanya, "Lho, ini tulisan yang mana lagi? Yang kemarin gimana?"

Aku percaya, hasil itu hanya urusan-Nya. Urusanku ya hanya berusaha dan berdo'a. Apapun hasilnya. Sekalipun kadang harus sebisa mungkin mengatur kata ketika ibuku bertanya, "Lho, bukumu yang terbit di Proumedia itu gimana kabarnya? Kok nggak terbit-terbit? Bukannya sudah diterima? Bukumu yang lain, cepat aja terbitnya..."

Hmmm... susahnya menjelaskan perbedaan antara "Penerbit Mayor" dan "Penerbit Indie" kepada orang tua yang sama sekali tidak faham masalah itu, sama rumitnya ketika kamu lagi sakit gigi plus sariawan di bibir pula tapi maksa kepengen banget makan sop tulang. Oh ibuku... yang kupentingkan adalah ridho dan doamu. Tak pentinglah kapan buku itu terbit... Sudah di Acc saja, rasanya sudah kembali melecutkan semangat menulisku. Hari gini, novel perdana langsung di Acc penerbit mayor... Itu sudah merupakan berkah yang sangat luar biasa! Ini perihal ridhomu, bu... Sebab siapalah aku? kadar ilmuku pun pas-pas.an. Wajar jika nanti novel itu terbit, itu bukan hasilku, tapi itu hasil dari do'a ibu. Juga dukungan yang melangit dari lelakiku.

Allah yang Mahabaik... Engkau pasti mendengar do'a baik yang akhir-akhir ini sering digumamkan suamiku? Pasti. Aku percaya itu! Dan Kau juga pasti mendengar, bahwa setiap kali aku mendengar dengungan itu, semangatku untuk terus menulis, terbakar dengan hebatnya.
"Umi, nanti kita beli laptop satu lagi ya... biar Umi bisa lebih konsen nulisnya. Jadi kalau Umi nulis, Abi bisa jaga Aqilah sambil nonton kartun islami di laptop satunya."

Energi cinta, ternyata sedemikian indahnya! :'(

*Aku sudah mulai belajar menulis 'out of the box' lho... Menulis sesuatu yang 'tabu' dan sebelumnya belum pernah aku tulis... yeayyy!! Aku harus bisa menjadi apapun, siapapun, dengan kondisi apapun yang aku mau! Dengan begitu, potensiku bisa lebih tergali lagi... AMiiinn!! Do'akan aku ya, kawan...

#FF2in1- nulisbuku.com#2_Menanti Pelangi


“Ma… Kenapa sih Papa…” kata-kataku berhenti karena terdengar langkah kaki seperti hendak menghampiri.

Mama yang terduduk lesu di hadapanku, kini berdiri merapikan bajunya yang sempat lusuh. Lantas merapikan rambutnya dengan sesekali melirik pada kaca lemari yang berdiri di hadapan kami.

“Mama cantik!” seruku. Aku senang melihat bagaimana cara Mama menyambut Papa. Ada binar-binar yang tak kumengerti namun dalam kurasakan kesejukannya.

Mama tersenyum saja mendengarku bicara begitu. Mama juga selalu begitu tiap kali aku memujinya. Ia tidak pernah meresponnya dengan laku yang lain selain senyuman. Mungkin, jika sekali saja ia memberikan respon berbeda, setiap kali aku memujinya, ia akan kebingungan mencari respon yang berbeda.

Papa memasuki ruangan di mana kami berada. Langkah tegapnya yang khas seperti inilah yang membuat bulu kudukku selalu berdiri saat di dekatnya. Aku tidak nyaman. Sekalipun dia Papaku sendiri.

“Masuk kamar!!” bentak Papa, seperti biasa.

Aku lantas mengambil langkah seribu untuk menuju kamarku. Tanpa menunggu bentakan selanjutnya. Aku sudah cukup tersedak dengan bentakan pertama. Dan aku sudah cukup trauma.

“Kamu mau meracuni aku, hah! Ini kopi kenapa rasanya pahit sekali?! Sudah berapa tahun kita menikah dan kamu belum juga paham aku tidak suka pahit?! Istri macam apa kamu?”

“Maaf Pah, tadi Mama sudah kasih gula kok…”

“Halah! Sini kamu rasakan sendiri!!”

Aku penasaran, seringkali aku mendengar keributan semacam ini namun tak berani melihat apa  yang terjadi. Biasanya keesokan harinya aku hanya menemui jejak kebiruan di sudut bibir Mama, atau lebam di tangannya, atau jalannya yang pincang. Kali ini aku harus melihatnya.

Kuberanikan diri membuka pintu kamarku. Yang kusaksikan benar-benar seperti di film-film. Kopi panas itu telah mengguyur tubuh Mama yang kini berteriak histeris meminta tolong. Aku menangis sejadi-jadinya.

Lantas berlari sekuat tenaga menggapai pintu utama dan keluar mencari pertolongan. Tetangga yang tengah berkumpul di depan gang rumahku lantas segera menuju ke rumahku. Mereka telah faham. Sekalipun tak kuceritakan.

Salah seorang dari mereka menelpon polisi. Beberapa dari mereka membawa Mama ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Aku masih menangis tersedu melihat Mama terus mengipasi tubuhnya yang belepotan kopi.

“Papa tidak sengaja, nak! Jangan benci Papa ya…” sempat-sempatnya ia berkata begitu kepadaku. Wanita tercintaku ini, berhati seperti bidadari.

***

“Ma… pelangi!” teriakku sambil menunjuk lukisan indah sang MahaKuasa. Mama kembali bisa tersenyum. Senyum yang kurasa jauh berbeda ketika kami masih bersama Papa.

Ya… biarlah aku hanya punya Mama. Biarkan Papa merenungi perbuatannya selama ini. Badai dan hujan yang menggelapi langit pasti akan bergulung hilang di sapu biru terang. Lantas muncul pelangi menjadi pertanda keindahan dan kebahagiaan.  Hidup ini selayaknya indah. Sekalipun keindahannya tak melulu nampak di mata dan di hati. Justru dengan hadirnya hujan, petir, akan mengundang pula hadirnya pelangi yang indah. Dan aku percaya itu!

-Tulisan ini diikutkan dalam [#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 27 Maret 2013 (2) oleh NulisBuku.com-

#FF2in1- nulisbuku.com#1_Tak Pernah Untukku...


“Hei… Udah makan?” tanyamu di siang yang terik ini.

Aku menjawabnya dengan senyum. Aku suka setiap kali kau tanyakan hal ini kepadaku. Dan ini juga yang selalu membuatku menunggu waktu makan tiba.

“Pasti belum! Kenapa harus nunggu aku, sih? ‘Kan bisa makan duluan…”

Aku kembali tersenyum, “Nggak enak makan sendirian…”

Kau lantas dengan sigapnya melangkah ke dapur lalu mencipta selaksa bunyi dari perabot yang kau sentuh di sana. Kau pasti sedang mempersiapkan makan siang untukku. Dan, aku suka.

“Mau disuapin?” kerling matamu membuat desiran darahku menguat. Oh Tuhan! Ingin rasanya kuhentikan waktu.

Seperti sebelum-sebelumnya, aku dan kamu menghabiskan banyak waktu bersama. Aku tak ingin pisah, sungguh! Sekalipun aku harus menempuh banyak cara, mencari berbagai alasan, bahkan mengorbankan banyak hal hanya untuk menikmati detik-detik kebersamaan denganmu. Tak sedikitpun aku merasa jenuh. Padahal kita telah bersama sejak lima tahunan lalu. Tapi rasa itu semakin menguat saja. Seperti candu. Aku bahkan berkali-kali sakau karena tidak bisa melihat senyummu, candamu dan menghirup wangimu.

“Ren, besok aku mau ke Jogja ya… Kamu mau ikut? Ada cuti nggak?” katamu.

Tentu saja batinku bersorak riang. Kemanapun kamu pergi, sekalipun mengorbankan banyak hal, aku rela. Daripada harus terkurung dalam kesendirian dan tidak dapat melihatmu 24 jam penuh.

“Ikut deh… Ntar si Bos gampang dikibulin. Kita bukannya udah lama ya nggak traveling.”

“Iya… makanya aku ajak kamu. Biar rame! Daripada aku suntuk ntar…”

Yeayyy… Rasanya aku mendadak punya sayap untuk terbang ke langit ke tujuh. Melewati taman bunga dengan wangi yang semerbak. Lantas berteriak pada kawanan burung bahwa aku sedang jatuh cinta. Kesekian kalinya pada orang yang sama.

***

“Ren, kita nggak sekamar nggak apa ya… Aku lupa kasih tau kamu kalau Bagas ikut. Tadi begitu tau aku mau ke Jogja dia langsung ngambil cuti dan nyusul ke sini. Nggak mungkin dong kita tidur bertiga satu kamar.”

Kata-katamu benar-benar membuatku seakan terhempas ke jurang yang teramat dalam hingga tak bisa lagi kutatap dunia. Aku sangat tidak suka kau menyebut-nyebut nama itu. Sebab dengan mendengar namanya saja, rasanya aku seperti tersengat halilintar. Mengembalikan imajiku ke alam nyata di mana aku, dan kau berada. Aku memang tidak akan pernah memilikimu. Sekalipun dapat kupastikan bahwa cinta yang kupunya melebihi cinta yang Bagas punya untukmu. Lihat saja, aku yang selalu ada untukmu. Saat kau sakit, saat kau kesepian. Bagas? Dia saja libur kerja hanya seminggu dalam tiga bulan. Apakah itu cinta?

“Makanya Reni, cepet nikah dong! Biar bisa jalan ber-empat. Aku kan nggak musti khawatir biarin kamu tidur sendirian.”

Lagi, dan lagi! Tak bisakah kau mengerti? Untuk apa selama ini aku berkorban? Aku tidak tertarik pada siapapun kecuali kau. Bahkan aku rela berpindah kota, dengan alasan pekerjaan untuk bisa melihatmu lagi setelah kau dipersuntingnya. Aku lantas memanfaatkan kondisi kesendirianmu untuk bisa ikut tinggal di rumahmu. Dan aku juga harus menahan rasa sakit yang seperti mencekikku tiap kali Bagas libur kerja dan menghabiskan banyak waktu dengan romantika bersamamu. Aku tau ini tak mungkin, aku tau kau akan tetap menjauh! Sekalipun begitu, aku tak menyesali pengorbananku. Sekalipun aku tidak mungkin menyatu denganmu, aku tetap cinta.

-Tulisan ini diikutkan dalam [#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 27 Maret 2013 (1) oleh NulisBuku.com-

20 Maret 2013

He's Not Romantic, but he's love...

"Suamiku?" Dinda menghela nafasnya dengan malas. Tatapan teman-temannya yang menunggu beberapa kalimat lahir dari bibir mungilnya itu seperti menghujam jantungnya. Bagaimana dia bisa menjawab tatapan itu sementara yang terjadi padanya adalah kebalikan dari apa yang terjadi pada teman-temannya. Mereka semua memiliki suami yang romantis. Bunga, candle light dinner, kado, kejutan, piknik romantis, travelling, sudah pernah mereka dapatkan dari suami mereka. Dan kini mereka bertanya padanya tentang hal serupa.
"Suamiku sama sekali tidak romantis!" katanya tanpa ekspresi berarti. 
"Sudah 5 tahun menikah, Din? Sekalipun, Damar tidak pernah bersikap romantis?" Kata-kata Fifi semakin menyudutkannya.
Dinda menggeleng pasrah. "Suamiku memang tidak romantis seperti suami-suami kalian. Bahkan tidak seperti yang kuidamkan sebelum aku menikah, dulu. Tapi, suamiku adalah seorang laki-laki kuat, lembut dan sangat perhatian. Memang tidak ada bunga, candle light dinner, traveling, bulan madu. Tapi Damar tidak pernah tega membiarkanku sendirian mengurus rumah. Sepulang kerja, ia ikut membantuku memasak tanpa kupinta terlebih dahulu. Ia membantuku mencuci baju dan piring. Tak jarang ia membantu membereskan rumah jika aku sibuk mengurus si kecil. Ia juga selalu turun tangan menemani si kecil bermain. Dan yang membuatku selalu terharu, ia bahkan rela menghabiskan waktu mengambil alih tugasku ketika aku sakit. Tanpa mengeluh sedikitpun. sekalipun masakannya keasinan, sekalipun sambil bolak-balik dari dapur ke kamar untuk memastikan kondisiku. Sekalipun berhujan-hujan untuk membelikan makanan kesukaanku."
Dinda menghela nafasnya. Semua mata menatapnya dengan berbinar.
"Itu bahkan lebih dari romantis, Dinda! Kau harus banyak bersyukur.
Dinda tersenyum. "Sangat! Dia anugerah terindahku... I love him so much!"
"And we know, he love you so much too..." Inggrid menyentuh bahunya lembut.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Dinda.

Sayang, Ayah dan Afra sudah masak spesial buat Bunda, ditunggu di ruang makan ya... 

Dinda tersenyum, lebar sekali, "He's Not Romantic, but he's love..."

19 Maret 2013

Radar, 16 Maret 2013

http://radarindo.blogspot.com/2013/03/cerpen-di-batas-nafas-dyah-n-rizky.html


DI BATAS NAFAS
Oleh: Dyah N. Rizky

“Kita harus pergi dari sini jika tidak ingin anak dan istri kita kehilangan kita untuk selamanya.”
“Tapi siapa yang menjaga mereka selama kita mengasingkan diri?”
“Tenang saja, tentara-tentara itu tidak akan mengganggu mereka. Yang mereka cari hanyalah kaum pemuda dan laki-laki dewasa saja. “
“Tapi istriku tengah mengandung anakku. Mungkin akan lebih baik jika aku menemaninya disini!”
Aku mengabahkan pandang ke langit hitam. Tak ada satupun bintang. Mungkin mereka turut paham bahwa kami tengah kalang.
“Kau pilihlah! Jika tetap bertahan, maka bisa saja tentara-tentara penjajah itu menangkapmu dan mengirimmu ke pulau yang tak berpenghuni. Atau bisa saja mereka meracunimu hingga kau tak lagi bernyawa. Atau bahkan istrimu juga menjadi korbannya. Tapi jika kau ikut bersamaku, kemungkinan besar kita akan selamat. Sebab kita akan kembali jika tanah ini telah aman. Dan kita bisa kembali berkumpul dengan keluarga kita,” Parmin berkali mengguncangkan bahuku. Hanya dia satu-satunya temanku yang tersisa. Sementara yang lain entah dimana rimbanya.
“Aku ingin tetap disini. Menjaga sumpahku saat menikahi istriku!”
“Lalu bagaimana dengan tanah airmu? Kau lahir dan dibesarkan di Bumi pertiwi ini. Lalu saat tanah lahirmu sedang membutuhkan keringatmu, kau malah lebih mementingkan istrimu. Tak malukah kau?!” sebuah suara nan serak mengagetkanku dan Parmin. Sejenak kami terdiam. Beberapa kali saling pandang dan kemudian sama membuangnya ke semak-semak diantara pepohonan rindang tempat kami berpijak dan berjaga, siaga. Lelaki tua itu menghisap cerutunya. Aku dan Parmin tau pasti bahwa lelaki tua itu adalah Mbah Tarjo. Beliau adalah salah satu pejuang yang masih bertahan hidup saat banyak teman seangkatannya terlebih dahulu gugur menyumbangkan tetes darah untuk negeri.
Doooorrrrr… Dooooorrrrrr… Dooorrrrr…
Beberapa kali letusan dari arah yang sepertinya tidak jauh dari kami, memaksa kami untuk segera bersembunyi. Tak ada senjata laras pendek apalagi panjang yang kami gunakan untuk melindungi diri. Hanya sebuah ketapel dan sekantung batu yang setia menemani hari-hari kami yang kelam.
“Baiklah. Aku ikut! Tapi aku harus pamit dengan istri dan keluargaku. Setidaknya mereka bisa merelakan, seandainya aku benar-benar tidak kembali,” aku menghela nafas panjang. Kurasakan mataku berdenyut dan panas. Tidak! Aku tidak boleh menangis, gumamku dalam hati.
Parmin mengangguk. Bara dimatanya bak obor semangat yang turut membakarku. Sementara Mbah Tarjo sudah menghilang saja. Seperti biasanya, beliau sudah sangat terlatih untuk bergerak cepat.
***
Sepagi ini, aku dan Parmin telah melesat di belantara nan rindang. Menyatu dengan hingar bingar para penduduk hutan. Berbekal parang, beberapa bekal pangan dan tak lupa ketapel, kami membelah cakrawala. Suasana masih terasa aman sejak kami meninggalkan kampun ketika bulan belum pulang ke peraduan. Hingga kini mentari menyapa kami di ufuk timur. Meski beberapa kali menjumpai binatang buas, tak menyurutkan langkah kami untuk tetap masuk ke dalam hutan dan segera membuat tempat untuk berlindung. Sebab, jika ternyata kami masih dengan kampong, akan sulit bagi kami untuk beristirahat. Apalagi sampai menyalakan api. Padahal saat ini Indonesia telah memasuki musim penghujan.
“Coba lihat sejenak, apakah kita sudah pergi cukup jauh?” seruku sambil menunjuk sebuah pohon besar nan tinggi. Setidaknya, mungkin saja pohon itu bisa membawa pandang hingga ke kampong kami. Parmin segera memanjat pohon tersebut. Untuk urusan panjat memanjat, memang dia ahlinya.
“Aku rasa cukup! Kita bisa beristirahat sejenak!” wajah Parmin mendadak sumringah begitu kakinya kembali menjejak di tanah. Ia bergegas mengambil botol minuman dari dalam tas kain miliknya. Mungkin tas itu adalah satu-satunya harta peninggalan mendiang ibunya. Sebab, sejak ia lahir, ia tidak dapat mengenali ayahnya yang sudah tak berkabar.
Akupun mengikutinya, membuka bungkusan bekal yang dipersiapkan oleh istriku. Ada air, garam, gula, beras dan beberapa potong kue yang sengaja dibuatkannya untukku. Ku julurkan sepotong kue ke arah Parmin yang tengah lahap menyantap jambu yang didapatnya di perjalanan tadi.
“Perjalanan kita masih panjang. Kue itu masih bisa bertahan untuk beberapa waktu lagi. Sebaiknya makanlah dulu hasil alam yang kita temui di jalan.”
Kata-kata Parmin memaksa tanganku untuk kembali membungkus bekalku dan mengikutinya menyantap buah-buahan yang kami dapatkan di jalan. Parmin, aku banyak belajar darinya.
Doorrrrr… dooorrrr… dooorrrr…
Suara tembakan yang berkali-kali terlontar, kontan mengagetkan kami dan membuat kami segera kembali bersiaga. Nyawa kami sedang berada di ujung tanduk.
Doorrr!!!
Kembali dan semakin dekat. Suara itu membuat para penghuni hutan, lari tunggang langgang di hadapan kami. Dan kami, masih bertahan pada posisi tiarap dengan keringat yang semakin membanjir.
“Kau disini saja. Aku coba mengalihkan perhatian mereka. Sepertinya mereka sedang berburu binatang. Jadi, kemungkinan besar mereka tidak tau keberadaan kita. Kalau mereka sudah terpaku pada jebakanku, kau bersiaplah lari. Jauh ke dalam hutan. Aku akan segera menyusul!”
Belum sempat aku meng-iya-kan, Parmin sudah merangkak ke semak yang lebih rimbun. Lalu melejitkan sebuah batu dari ketapelnya. Para tentara penjajah itu segera mendekat ke arah batu yang dilejitkan Parmin. Aku lantas bersiap menjauh. Sebisa mungkin kulangkahkan kakiku dengan sangat berhati-hati agar langkahku tidak mengundang perhatian mereka. Lalu, setelah langkahku telah cukup jauh meninggalkan tempat semula, kutolehkan kepalaku dan mencari-cari sosok Parmin.
Dooorrrr!!! Dooorrrr!!!
“Merdeka!!!” sebuah teriakan lantang dari suara yang kukenal itu membubung ke angkasa. Pergikah kau Parmin?!
“Hei Indonesia! Bertahan disana!!” mungkin seperti itulah kata-kata dari suara dengan aksen bahasa yang sebenarnya tak kumengerti. Sementara aku menurut saja. Aku sudah pasrah akan nasib yang akan menyambangiku.
Mereka lalu mengikat kedua tanganku, mengambil bekalku dan memaksaku untuk ikut bersama mereka. Ternyata di mobil itu, tak hanya aku sendiri. Ada beberapa orang lelaki dewasa dan pemuda. Tapi tidak ada parmin disana. Gugurkah ia?!
“Kita akan dijadikan Romusha,” gumam seseorang yang duduk tak jauh dariku.
“Begitu lebih baik, daripada harus terbunuh dan mati sia-sia. Semoga setelah jadi Romusha ada sedikit celah untuk kembali ke kampung,” lelaki yang duduk tepat di sebelah kananku ikut menimpali.
“Namamu siapa? Darimana?” usai menimpali, lelaki itu mengarah padaku.
“Rahim. Dari dusun Karang,” jawabku singkat.
“Aku Firman. Dari dusun Tambak.”
“Kita tidak boleh kalah! Tanah ini tanah kita! Bukan tanah mereka!” pekiknya. Aku mengangkat alis. Perjuangan kembali dimulai.
***
Entah sudah berapa hari aku dan para Romusha lainnya terombang-ambing di laut luas. Kapal yang mengangkut kami tergolong besar. Sebab, tubuhku dan sendi-sendiku hampir patah rasanya setiap pagi harus membersihkan  seluruh lantainya. Begitupun dengan yang lainnya. Bekerja tiada henti, makan 1 kali sehari, tidurpun mencuri-curi waktu. Aku sampai lupa kapan terakhir kali aku tertidur lelap. Rasanya sudah lama sekali.
“Kita hampir sampaii!! Kita hampir sampai!!” seru seorang pemuda dengan riangnya.
“Sampai dimana?” tanyaku.
“Dari pembicaraan mereka yang aku dengar, mereka akan membawa kita ke pulau Kalimantan. Dan mereka akan menjadikan kita tenaga kesehatan untuk menolong para tentara yang terluka.”
“Tentara mereka?!”
Pemuda itu mengangguk. Wajahnya berubah pias. Kamipun hanyut dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Teng…teng…teng
“Waktunya makan…” desisku. Perutku sudah sejak semalam tadi minta diisi.
Berlarian kami menuju ke dapur, tempat mengambil makanan yang telah dijatah. Aku mendengus. Makanan kali ini tidak cukup indah dibanding kemarin. Sepotong singkong rebus dan seekor ikan yang direbus tanpa bumbu. Tak apalah, diberi hidup saja aku sudah sangat bersyukur. Apalagi sampai bisa makan.
Belum habis singkong yang kugenggam, dataran nan hijau telah nampak dari kejauhan.
“Inikah Kalimantan?!” gumamku lirih.
Beberapa awak kapal telah bersiaga. Begitupun para tentara yang terus berjaga dengan moncong senjatanya. Nampaknya mereka takut sekali jika sewaktu-waktu kami melawan. Padahal sudah cukup jelas, kami tidak memiliki sebilahpun senjata.
Menit-menit berikutnya berlalu dengan gamang. Tidak ada nasib yang bisa kami reka setelah ini. Jika melarikan diri, mau lari kemana? Sementara yang aku tau, satu-satunya jalan untuk kembali ke ranah Jawa hanya laut. Lalu, harus menyerahkah?!
Seorang tentara membagikan kotak perlengkapan keselamatan dan tanda pengenal berupa selembar kain putih yang diikat di lengan kanan kami masing-masing. Ada setitik bangga terselip di dadaku, sebab misi kemanusiaan yang tengah kuusung. Semoga saja ada rekan sesama anak bangsa yang bisa kutolong.
Perlahan tapi pasti, kujejakkan kakiku di tanah Kalimantan. Sebuah pulau yang di peta terlihat seperti ayam –pun kaya akan alam. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Yang bertugas untuk masuk ke dalam hutan dan mencari korban untuk diselamatkan.
“Stttssss… Indonesia!” seru seseorang di antara rerumputan. Aku dan kawananku menoleh mencari asal suara.
“Kau Rahim, bukan?!” Aku mengerutkan kening. Ada yang mengenaliku?
“Aku Salim, dusun Karang!” serunya. Mataku berbinar dan segera memeluknya.
“Kapan kau sampai?” tanyaku.
“Aku sudah lebih dua minggu disini. Kau?”
“Aku baru saja sampai.”
“Istrimu sudah melahirkan. Kau sudah tau?”
Setitik air jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. Tak bisa kubendung lagi.
“Laki-laki! Gagah sepertimu.”
Kembali, aku tak bisa berkata-kata.
“Tapi sebelum aku dibawa kemari, istrimu dinikahkan dengan anak kepala dusun, si Tarman. Sebab mereka mengira kau telah mati.”
Doorr!!
Tepat! Sebuah peluru menembus lengan kiriku. Wangi darah menguar basah. Perih dan nyeri yang kurasa tidak se-perih berita yang baru saja kudengar. Pandanganku mengabur, perlahan semuanya berubah menjadi gelap. Sampai disinikah jejakku berjuang di tanah negeri?!
***
“Merdekaaa!!!! Merdekaa!”
Suara-suara bising memekakkan telingaku.
“Rahim, kau telah sadar?” ku dengar sayup suara Salim.
Aku menggeliat. Namun perih masih menyucuk lengan kiriku.
“Indonesia telah merdeka kawan! Penjajah itu akan segera angkat kaki dari Bumi pertiwi.”
Aku tersenyum. Rasanya darahku terbayar sudah.
“Kau ikut kembali ke tanah Jawa atau tetap disini?”
Dengan tegas aku menggeleng dan menjawab, “Aku akan tetap disini. Sampaikan saja salamku pada anakku dan Ibunya. Suatu saat nanti aku pasti pulang untuk menjenguknya dan juga menjenguk keluargaku yang tersisa.”
“Baiklah! Bangun Kalimantan dengan tanganmu kawan! Buat kami bangga.”
“Merdeka!!” pekikku lirih.
                        ***

13 Maret 2013

[#FF2in1] Aku, Segalanya Bagimu

Pernah aku bertanya padamu, apa yang membuatmu bersedia menikah denganku. Kamu jawab satu, sebabnya adalah aku. Kamu bertanya kembali kepadaku. Mengapa aku memilihmu? Kujawab satu, sebabnya adalah kamu. Kamu fikir aku bercanda karena jawabanku sama. Lantas kamu memintaku untuk mencari jawaban lain. Tanpa fikir panjang, tanpa mengada-ada, langsung kujawab, "Sebab dihatiku hanya ada kamu. Sejak aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan meminangmu. Aku hanya ingin kamu untuk kucintai. Hari ini, esok, dan selamanya. Sebabnya karena cintaku itu kamu. Bukan oranglain."

Seperti pagi ini. Aku menyaksikanmu terduduk di sebuah kursi roda. Sejak setahun yang lalu. Saat usia pernikahan kita menginjak tahun ke 10.
"Kenapa Abang tidak menikah lagi? Aku sudah tidak seperti dulu lagi. Abang pasti membutuhkan seorang istri yang bisa diandalkan. Aku izinkan Abang menikah lagi. Aku ridho, Bang!" katamu. Aku melihat ketegaran yang terpancar jelas di mata indahmu. Aku melihat cinta dan kedamaian di sana. Dan aku kembali jatuh cinta. Entah untuk berapa juta kalinya.
Aku mengambil sepiring nasi goreng dari atas meja makan, beserta dengan sebutir telur ceplok yang sudah bisa kupastikan kelezatannya.
"Sekalipun tidak ada ini, Abang tetap tidak akan berubah. Di mata Abang, cinta hanya satu. Dinda! Abang tidak bisa jatuh cinta lagi pada oranglain." kataku sambil menyodorkan nasi goreng itu kehadapanmu. Kamu lantas tersenyum, indah sekali. Senyum itu yang membuatku selalu rindu. Dan selalu membuatku terpancing untuk mencium keningmu. Sebab lagi-lagi, aku jatuh cinta.


-Tulisan ini diikutkan dalam [#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 5 Juni 2013 (1) oleh NulisBuku.com-