27 Maret 2013

#FF2in1- nulisbuku.com#2_Menanti Pelangi


“Ma… Kenapa sih Papa…” kata-kataku berhenti karena terdengar langkah kaki seperti hendak menghampiri.

Mama yang terduduk lesu di hadapanku, kini berdiri merapikan bajunya yang sempat lusuh. Lantas merapikan rambutnya dengan sesekali melirik pada kaca lemari yang berdiri di hadapan kami.

“Mama cantik!” seruku. Aku senang melihat bagaimana cara Mama menyambut Papa. Ada binar-binar yang tak kumengerti namun dalam kurasakan kesejukannya.

Mama tersenyum saja mendengarku bicara begitu. Mama juga selalu begitu tiap kali aku memujinya. Ia tidak pernah meresponnya dengan laku yang lain selain senyuman. Mungkin, jika sekali saja ia memberikan respon berbeda, setiap kali aku memujinya, ia akan kebingungan mencari respon yang berbeda.

Papa memasuki ruangan di mana kami berada. Langkah tegapnya yang khas seperti inilah yang membuat bulu kudukku selalu berdiri saat di dekatnya. Aku tidak nyaman. Sekalipun dia Papaku sendiri.

“Masuk kamar!!” bentak Papa, seperti biasa.

Aku lantas mengambil langkah seribu untuk menuju kamarku. Tanpa menunggu bentakan selanjutnya. Aku sudah cukup tersedak dengan bentakan pertama. Dan aku sudah cukup trauma.

“Kamu mau meracuni aku, hah! Ini kopi kenapa rasanya pahit sekali?! Sudah berapa tahun kita menikah dan kamu belum juga paham aku tidak suka pahit?! Istri macam apa kamu?”

“Maaf Pah, tadi Mama sudah kasih gula kok…”

“Halah! Sini kamu rasakan sendiri!!”

Aku penasaran, seringkali aku mendengar keributan semacam ini namun tak berani melihat apa  yang terjadi. Biasanya keesokan harinya aku hanya menemui jejak kebiruan di sudut bibir Mama, atau lebam di tangannya, atau jalannya yang pincang. Kali ini aku harus melihatnya.

Kuberanikan diri membuka pintu kamarku. Yang kusaksikan benar-benar seperti di film-film. Kopi panas itu telah mengguyur tubuh Mama yang kini berteriak histeris meminta tolong. Aku menangis sejadi-jadinya.

Lantas berlari sekuat tenaga menggapai pintu utama dan keluar mencari pertolongan. Tetangga yang tengah berkumpul di depan gang rumahku lantas segera menuju ke rumahku. Mereka telah faham. Sekalipun tak kuceritakan.

Salah seorang dari mereka menelpon polisi. Beberapa dari mereka membawa Mama ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Aku masih menangis tersedu melihat Mama terus mengipasi tubuhnya yang belepotan kopi.

“Papa tidak sengaja, nak! Jangan benci Papa ya…” sempat-sempatnya ia berkata begitu kepadaku. Wanita tercintaku ini, berhati seperti bidadari.

***

“Ma… pelangi!” teriakku sambil menunjuk lukisan indah sang MahaKuasa. Mama kembali bisa tersenyum. Senyum yang kurasa jauh berbeda ketika kami masih bersama Papa.

Ya… biarlah aku hanya punya Mama. Biarkan Papa merenungi perbuatannya selama ini. Badai dan hujan yang menggelapi langit pasti akan bergulung hilang di sapu biru terang. Lantas muncul pelangi menjadi pertanda keindahan dan kebahagiaan.  Hidup ini selayaknya indah. Sekalipun keindahannya tak melulu nampak di mata dan di hati. Justru dengan hadirnya hujan, petir, akan mengundang pula hadirnya pelangi yang indah. Dan aku percaya itu!

-Tulisan ini diikutkan dalam [#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 27 Maret 2013 (2) oleh NulisBuku.com-

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak anda di sini ya... :D