27 Maret 2013

#FF2in1- nulisbuku.com#1_Tak Pernah Untukku...


“Hei… Udah makan?” tanyamu di siang yang terik ini.

Aku menjawabnya dengan senyum. Aku suka setiap kali kau tanyakan hal ini kepadaku. Dan ini juga yang selalu membuatku menunggu waktu makan tiba.

“Pasti belum! Kenapa harus nunggu aku, sih? ‘Kan bisa makan duluan…”

Aku kembali tersenyum, “Nggak enak makan sendirian…”

Kau lantas dengan sigapnya melangkah ke dapur lalu mencipta selaksa bunyi dari perabot yang kau sentuh di sana. Kau pasti sedang mempersiapkan makan siang untukku. Dan, aku suka.

“Mau disuapin?” kerling matamu membuat desiran darahku menguat. Oh Tuhan! Ingin rasanya kuhentikan waktu.

Seperti sebelum-sebelumnya, aku dan kamu menghabiskan banyak waktu bersama. Aku tak ingin pisah, sungguh! Sekalipun aku harus menempuh banyak cara, mencari berbagai alasan, bahkan mengorbankan banyak hal hanya untuk menikmati detik-detik kebersamaan denganmu. Tak sedikitpun aku merasa jenuh. Padahal kita telah bersama sejak lima tahunan lalu. Tapi rasa itu semakin menguat saja. Seperti candu. Aku bahkan berkali-kali sakau karena tidak bisa melihat senyummu, candamu dan menghirup wangimu.

“Ren, besok aku mau ke Jogja ya… Kamu mau ikut? Ada cuti nggak?” katamu.

Tentu saja batinku bersorak riang. Kemanapun kamu pergi, sekalipun mengorbankan banyak hal, aku rela. Daripada harus terkurung dalam kesendirian dan tidak dapat melihatmu 24 jam penuh.

“Ikut deh… Ntar si Bos gampang dikibulin. Kita bukannya udah lama ya nggak traveling.”

“Iya… makanya aku ajak kamu. Biar rame! Daripada aku suntuk ntar…”

Yeayyy… Rasanya aku mendadak punya sayap untuk terbang ke langit ke tujuh. Melewati taman bunga dengan wangi yang semerbak. Lantas berteriak pada kawanan burung bahwa aku sedang jatuh cinta. Kesekian kalinya pada orang yang sama.

***

“Ren, kita nggak sekamar nggak apa ya… Aku lupa kasih tau kamu kalau Bagas ikut. Tadi begitu tau aku mau ke Jogja dia langsung ngambil cuti dan nyusul ke sini. Nggak mungkin dong kita tidur bertiga satu kamar.”

Kata-katamu benar-benar membuatku seakan terhempas ke jurang yang teramat dalam hingga tak bisa lagi kutatap dunia. Aku sangat tidak suka kau menyebut-nyebut nama itu. Sebab dengan mendengar namanya saja, rasanya aku seperti tersengat halilintar. Mengembalikan imajiku ke alam nyata di mana aku, dan kau berada. Aku memang tidak akan pernah memilikimu. Sekalipun dapat kupastikan bahwa cinta yang kupunya melebihi cinta yang Bagas punya untukmu. Lihat saja, aku yang selalu ada untukmu. Saat kau sakit, saat kau kesepian. Bagas? Dia saja libur kerja hanya seminggu dalam tiga bulan. Apakah itu cinta?

“Makanya Reni, cepet nikah dong! Biar bisa jalan ber-empat. Aku kan nggak musti khawatir biarin kamu tidur sendirian.”

Lagi, dan lagi! Tak bisakah kau mengerti? Untuk apa selama ini aku berkorban? Aku tidak tertarik pada siapapun kecuali kau. Bahkan aku rela berpindah kota, dengan alasan pekerjaan untuk bisa melihatmu lagi setelah kau dipersuntingnya. Aku lantas memanfaatkan kondisi kesendirianmu untuk bisa ikut tinggal di rumahmu. Dan aku juga harus menahan rasa sakit yang seperti mencekikku tiap kali Bagas libur kerja dan menghabiskan banyak waktu dengan romantika bersamamu. Aku tau ini tak mungkin, aku tau kau akan tetap menjauh! Sekalipun begitu, aku tak menyesali pengorbananku. Sekalipun aku tidak mungkin menyatu denganmu, aku tetap cinta.

-Tulisan ini diikutkan dalam [#FF2in1] ~ Flash Fiction 2in1 Sesi 27 Maret 2013 (1) oleh NulisBuku.com-

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak anda di sini ya... :D