9 Maret 2013

Radar, 09 Maret 2013

ttp://www.radarindo.com/2013/03/bara-oleh-rizky-n-diah.html




BARA
Dyah N. Rizky
… Braakkkk!!!
Suara meja yang kuhantam keras membungkam semua kata yang menguar memancing kemelut batinku kembali.
“Nggak usah banyak omong ya, kamu!”
Hening. Semua mata menjadikanku satu-satunya objek tatapan mereka. Mungkin diantara mereka ada yang memandangku iba, mungkin ada yang takut juga, atau mungkin juga ada yang semakin benci karena melihatku berani.
“Siapa sih yang mau ada di posisiku sekarang ini? Abah kawin lagi, bawa lari uang desa, lalu entah kabur kemana! Kak Nala, kakak sulungku sakit leukimia, akhirnya meninggal tanpa sedikitpun dibayari sama Abah. Sekarang keluarga kami dikejar-kejar rentenir, polisi, sampai jadi omongan orang-orang! Termasuk kamu-kamu tuh! Seandainya ini terjadi sama keluarga kamu gimana? Mau?! Nggak kan? Sama!”
Kuacung-acungkan jari telunjukku ke wajah Nina, gadis yang berdiri di hadapanku ini,  yang air mukanya sudah berubah memerah. Kufikir, ia tak akan diam saja. Sebab ia akan benar-benar malu dan kehilangan muka jika teman-teman berbalik membelaku.
“Tapi kamu tetap nggak pantas sekolah di sini! Lebih baik kamu cari uang biar bisa kembalikan uang yang dibawa lari Abah kamu itu! Nggak usah mengotori sekolahan. Nggak usah buat orang simpati dengan kisah hidup kamu itu. Nggak ada yang kasihan!”
“Kamu itu yang mengotori sekolahan. Nggak pinter, banyak omong. Banyakin baca buku tuh biar bisa jawab soal ujian, biar lulus. Nggak usah urusin orang. Kamu nggak lebih baik. Orang-orang sudah pada tau, Abah kamu suka minta amplop. Uangnya buat kamu beli baju bagus, beli make-up, beli ini itu.”
Sempat kulihat ekspresi tak bersahabat Nona dari ujung mataku. Memang aku sengaja beranjak meninggalkan tatapan-tatapan yang berkerumun di kantin sekolah dimana aku berada di sana beberapa detik yang lalu. Lebih baik aku mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional, agar nilaiku bagus, dan bisa melamar kerja guna menghidupi keluargaku. Menata kepingan-kepingan hidup yang hancur berantakan.
Aku tak habis fikir, mengapa Allah menunjuk keluargaku untuk menjalani hidup se-dramatis ini. Kadang aku berfikir, kisahku bak sinetron yang sering nampang di layar kaca. Bedanya, sinetron itu banyak rekaannya, sedangkan hidupku ini nyata.
Setiap sebelum tidur, aku selalu berdoa agar setelah aku bangun nanti keadaan keluargaku akan kembali seperti 6 bulan lalu. Dimana Abahku tidak tergoda dengan perempuan muda itu. Yang menurut cerita orang-orang, memang sering datang menggoda Abahku di kantor kepala Desa. Lalu menikah lagi dengannya. Lalu melarikan uang Desa yang diamanatkan atas nama jabatannya sebagai kepala bagian sosial. Kemudian menghilang bak di telan Bumi meninggalkan bencana bagiku, Mamaku, Kakak sulungku dan juga Adik bungsuku yang masih berumur 10 tahun. Membuat orang-orang menyudutkan kami sekeluarga.
Membuat sakit leukimia begitu ganasnya menggerogoti tubuh Kak Nala. Hingga berkali-kali menjalani cuci darah. Dan membuat Mama terpaksa meminjam uang kepada rentenir yang kemudian mengambil sebidang tanah warisan Mama sebagai jaminannya. Itupun masih menyisakan beberapa juta rupiah yang entah harus dibayar pakai apa. Hidup kami yang awalnya tak pernah cukup, kini semakin sulit.  Dan sakit itu semakin diperparah dengan kenyataan bahwa Abah tak pulang-pulang. Bahkan ketika jasad Kak Nala dihantarkan ke peristirahatan terakhirnya, Abah tak kunjung datang.
Dan kehidupan kami selanjutnya, seperti pesakitan. Teralienasi dari kehidupan kami sendiri. Tubuh Mama tergerus oleh masalah ini hingga menjadi sakit-sakitan. Lelah menghadapi rentenir dan polisi yang meminta keterangannya. Juga lelah menerima tamu sales-sales gadungan yang tak lain adalah mata-mata polisi yang sedang bersandiwara. Meski sudah kuteriakkan berkali-kali bahwa kami benar-benar tak tau keberadaan Abah.
Abah, lelaki yang dulu teramat kucintai. Lelaki yang sangat penyayang, santun, lembut, bertanggungjawab dan tegas. Lelaki yang menjadi patokanku dalam menilai seperti apa laki-laki idamanku kelak. Lelaki yang selama ini tak kuragukan cintanya kepada Mama. Bagiku Abah adalah pahlawan, pengayom, dan pemimpin yang baik untuk keluarga kami. Sebab Abah adalah satu-satunya lelaki di keluarga kecil kami. Ahh… betapa aku sangat mengagumi Abah. Aku selalu membanggakan Abah dihadapan teman-temanku.
Kini? Tak perlu ditanya lagi. Abah adalah lelaki yang paling aku benci. Keputusannya untuk menikah lagi tanpa sepengetahuan Mama merupakan sebuah bom waktu yang ketika meledaknya menimbulkan luka yang perihnya sangat luar biasa. Pengkhianatan nyata dari seorang Abah. Lari dengan perempuan lain dengan membawa uang desa. Mungkin syurga dunia bagi Abah. Tapi justru menjadi neraka bagi kami. Tega-teganya Abah!!
Air mata tak bisa kubendung lagi. Rasa sakit ini sudah mencapai level stadium akhir. Akut. Tak ada obat yang mempan mengobatinya. Rasa benci terus saja terpupuk tiap kali aku melihat laki-laki. Aku seperti dihantui dendam dengan Abahku sendiri.
Kata-kata terakhir Kak Nala ketika ajal menjemputnya selalu terngiang. Menggema di relung-relung kalbuku. “Rep, jaga Mama sama Dian. Sekarang kamu yang jadi tumpuan keluarga. Sekolah yang pintar. Lalu cari kerja. Maafkan Kakak meninggalkan hutang karena sakit ini.” Ah!! Seandainya… ya, berjuta kata seandainya terus berseliweran di otakku.
Allah! Ya, aku masih punya Allah. Cukup Allah saja tempatku bergantung dan berserah diri. Sebab tak ada jalan yang buntu bila mengharapkan belas dan kasih dari-Nya. Semua ujian, dibaliknya, pasti terselip hikmah. Aku yakin, Allah menguji hanya dengan batasan kemampuan hamba-Nya. Semua pasti akan kembali baik, sebab dibalik kesusahan pasti ada kemudahan.
***
“Repa, bagaimana uang ujian kamu itu? Berapa banyak yang diperlu?”
“Nggak usah dipikirkan Ma, Repa sudah diberi keringanan sama sekolah.”
“Mama bingung, Rep. Jualan Mama nggak ada yang laku. Orang nggak mau beli jualan Mama. Apalagi minjami uang untuk sekolah kamu.”
Hatiku teriris. Mengapa dosa ini tertimpakan kepada kami? Jika begini keadaannya, bagaimana kami makan? Bagaimana kami hidup?
Ah, mungkin enak jadi Kak Nala. Ia kini telah tenang dalam tidur panjangnya. Tidak memikirkan hutang, polisi dan kejamnya mata orang-orang yang memandang. Meskipun sempat tersiksa dengan selang-selang yang dipasang di tubuhnya. Namun, itu adalah pengurang dosanya, bukan? Ia kini sudah bisa beristirahat dengan tenang.
Lalu kami?! Aku lelah mengutuk diri. Sembab di mataku bahkan tak sempat hilang ditambah sembab baru lagi. Seperti luka yang semakin menganga setiap detiknya. Tekadku sudah bulat. Aku ingin membawa Mama dan adikku pergi. Pindah dari kampung ini. Kalung hadiah dari Abah 2 tahun yang lalu, pasti masih laku kujual untuk bekal perjalanan.
Mungkin ini jawaban Allah atas doaku. Jika esok Allah mengizinkan kami untuk pergi, maka akan ada kehidupan baru atas kami. Aku yakin itu!
***
Udara kota ini segar. Sesegar nafas yang kutarik panjang hingga memenuhi rongga paru-paruku. Setelah harus memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah yang tinggal 3 bulan lagi, aku dan keluarga kecilku juga memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman kami.
Kini, kami terdampar di sebuah kota nun jauh dari kampung kami. Kemarin malam, saat semua mata tengah terlelap, kami berkemas. Tak satu jejakpun kami tinggalkan untuk mereka endus. Biarlah. Semoga Tuhan mengizinkan kami untuk memulai hidup baru dengan tenang. Uang hasil menjual kalungpun lumayan cukup untuk biaya perjalanan. Bahkan untuk menyewa sebuah kamar kontrakan. Kedepannya, aku berdoa, semoga ada yang berkenan memberiku pekerjaan. Setidaknya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Juga untuk sekolah Dian, adikku satu-satunya.
“Baru ngontrak disini ya. De?” seseorang mengagetkanku.
Seorang wanita berparas indah nan lembut menyapa dari kamar kontrakan sebelah. Ya, ia adalah tetangga baruku. Kuketahui itu, sebab sebelum sapaannya, terlebih dahulu kudengar derit pintu yang dibuka.
Aku mengangguk pelan.
“Nama saya Rita. Saya ngontrak di sini juga. Belum lama, baru 2 bulan.” Kembali ia berkata ramah. Senyum tulusnya nampak mengembang diapit lesung pipi yang membuatnya nampak semakin mempesona.
“Saya Repa. Saya disini bersama Mama dan adik saya. Tapi mereka sedang beristirahat.”
“Oooh… lain kali main ke kamar saya. Saya kesepian disini, keluarga jauh semuanya. Saya nggak punya teman.”
Aku mengangguk. Perempuan yang selanjutnya kupanggil Kak Rita itu kembali menyambung kata-katanya, “Suami saya kerja di tambang. Pulangnya jauh malam. Jadi ya, begini.”
Aku menjawabnya dengan senyum. Cerita terus mengalir darinya. Ia sosok yang baik. Ramai dan santun. Ia bahkan berjanji akan mencarikanku pekerjaan. Akhirnya… hidupku akan segera berubah. Hawa segar terasa meniup-niup rambutku yang tak mampu lagi kuurus.
“Sudah punya makanan untuk makan malam?”
Aku menggeleng. Aku belum memikirkan itu. Rasanya berada di kota ini saja sudah membuat selera makanku hilang. Aku terlampau senang. Bersemangat menyambut kehidupan baruku. Tapi aku punya tanggungan. Ibu dan adikku. Mereka pasti sangat kelelahan.
“Begini saja, bagaimana kalau malam ini kalian makan di kamar saya. Saya yang memasak khusus untuk kalian. Sebagai perkenalan tetangga baru.”
Melihat ketulusan di matanya, aku kontan mengangguk. Segera kukabarkan pada Ibu dan adikku untuk segera bersiap. Sebab mereka belum membersihkan diri sejak siang tadi. Sepertinya mereka benar-benar kelelahan.
Isya menjelang, segera kulangkahkan kaki menuju kamar mandi bersama yang terletak di ujung lorong kamar kontrakan. Tepat setelah kamar kontrakan Kak Rita. Aku mengambil air wudhu. Bersiap melaksanakan shalat di Masjid yang berada tepat di belakang deretan kamar kontrakan ini. Suasana Masjid memang sangat mendamaikan hati siapapun yang singgah di dalamnya. Sehingga dapat dengan suksesnya mencairkan segala beban hidup yang terasa berat menunggangi bahu.
Ingin rasanya waktu berhenti ketika sedang asyik bermunajat kepada-Nya. Agar setelahnya, tak perlu kembali ke masalah yang tengah dihadapi. Agar gundah tak perlu datang lagi. Tapi setidaknya aku sudah cukup lega. Terserah orang lain menilai keluargaku adalah pengecut yang hanya bisa lari dari masalah. Toh yang bermasalah dan yang membuat masalah adalah Abah, bukan kami. Jikalau uang itu juga dipergunakan untuk kehidupan kami, mungkin kami bisa nerima saja jika kami juga turut bertanggung jawab. Tapi ini, tidak sepeserpun. Bagaimana kami bisa rela?
“Abah, Kakak! Abah! Itu Abah!!” Dian menarik-narik punggung tangan kananku. Langkahnya terseok-seok menarikku mendekat ke sosok yang menarik pandangannya.
“Ma, Abah Ma! Itu Abah. Abah pasti mau jemput kita,” Dian juga menarik punggung tangan Mama dengan wajah sumringah.
Mataku mengerjap mencari-cari sosok yang ditunjuk oleh adikku. Beberapa orang tengah melintas di pekarangan masjid ini. Entah yang mana yang ditunjuknya.
“Itu Abah, kakak!”
Adikku berlari kencang memburu sosok yang diincarnya. Seorang laki-laki, aku tak begitu mengenalnya.
“Abah… Abah…!!” teriak Dian histeris.
Aku mengejarnya. Memburu sosoknya. Adikku bertambah histeris. Ia menarik-narik laki-laki itu.
“Abah, Kak!! Ini Abah!!” teriaknya nyaring.
Aku mendongakkan kepala pada sosok laki-laki yang membuat adikku histeris. Mama yang berdiri di belakang kami terpaku. Mungkin bingung mau berbuat apa. Antara percaya atau tidak laki-laki itu adalah Abah.
Remang cahaya lampu jalan membuat mataku tak begitu tajam menangkap wajah sosok lelaki di hadapanku. Lelaki itu sepertinya terkejut dan juga terpaku seperti Mama.
“Ini Abah, Kakak!!” lagi-lagi adikku berteriak nyaring. “Abah, Abah kemana saja.”
“Aduuhhh. Apa-apaan ini?” bentak laki-laki itu.
Nafasku tercekat. Suara itu…
Sorot motor yang lewat menerpa wajah lelaki itu. Dan akhirnya wajah itu nampak dengan sangat jelas. Ia bukan Abahku
“Ada apa ini?!” bentaknya lagi.
Aku mengambil Dian dengan segera. Mama yang menyadari hal itupun langsung memeluk Dian, mencoba menenangkannya.
“Maaf ya, Pak!” ucapku dengan nada menyesal yang tak kubuat-buat.
Sepeninggal laki-laki itu, Dian mulai terlihat tenang. Meski belum bisa kami bawa masuk ke dalam kamar kontrakan. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali tantrum. Ketika seorang laki-laki kembali melintas di jalan raya yang berada di hadapan kami.
“Abah, Ma… Itu Abah!!”
Dian kembali meronta. Susah payah aku dan Mama menenangkannya.
“Allaaah!!” Desisku penuh harap akan kekuatan-Nya.
 “Mari saya bantu…” suara lembut itu teduh di telingaku. Asalnya adalah Kak Rita, tetangga baruku.
            Ya Rabb!! Masalah ini juga menimbulkan efek yang tidak baik untuk Dian. Entah apa namanya… Intinya, aku berharap kekuatan saja. Semoga semuanya menjadi lebih baik. Satu lagi, aku berharap rasa benciku terhadap Abah bisa menghilang seiring berjalannya waktu. Sekalipun luka itu tak mungkin sembuh tanpa bekas. Sebab Abah tetaplah Abahku. Aku tidak ingin bara di hatiku jadi lebih membara lagi.
=selesai=

NB: Dedicated to Ukhti fillah!! My young sister in islam. Semoga Allah menerima amal ibadahmu dan menjadikan kisahmu sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Amiiinn.


Tentang Penulis :
Ibu satu anak ini bernama lengkap Rizky Nuryaning Dyah. Sejauh ini tulisannya sudah tergabung bersama rekan-rekan penulisnya di beberapa buku antologi. Seperti antologi cerita inspiratif “Cinta Membaca”, Leutika Prio 2012. Buku antologi cerita inspiratif “Kado Untuk Pasutri”, Pena Nusantara 2012. Antologi cerpen inspiratif “Gara-Gara Uang”, Ae Publishing 2012. Antologi cerpen “Secret Admirer #3”, Harfeey Publishing 2013. Dan sebuah novel solo yang akan segera diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor Indonesia. 
E-mail    : rizkyndyah@yahoo.com
Akun FB : Rizky N. Dyah

2 komentar:

Mohon tinggalkan jejak anda di sini ya... :D