7 Maret 2013

Radar, hari ini...

http://www.radarindo.com/2013/03/pahlawan-odong-odong.html




Pahlawan, Odong-odong
 Oleh: Rizky N. Dyah

Pagi ini cerah. Mentari tak lagi bersembunyi di balik pekatnya awan seperti hari kemarin. Kota Minyak, akhir-akhir ini seringkali dihujani berkah mata air langit yang waktu jatuhnya tak bisa direka. Kadang-kadang saat mentari yang tampak menyengat di atas ubun, serta merta terselimuti gelap yang mengganti hangatnya mentari dengan dinginnya hujan. Dan itulah yang disyukuri Rani, gadis kecil berusia 8 tahun, siswi kelas 2 pada salah satu sekolah ternama di Kota Minyak ini. Sebab, ia tak lagi harus mengawali harinya dengan becek yang dapat mengotori sepatu sekolahnya. Dan ia bisa pergi sekolah dengan santainya tanpa takut terkena cipratan air yang menyembur dari pijakan ban-ban kendaraan yang melalui jalan-jalan menuju sekolahnya. Terngiang di telinganya celoteh salah seorang teman yang akhirnya sukses merusak mood-nya seharian kemarin. “Sudah ujan, becek, nggak ada ojek, jalan kaki pula. Jadi kotor gitu. Mana keren!” ejek temannya itu sambil mencibir ke arah Rani. Aksen bicaranya ke”bule-bule”an, seperti salah satu artis yang identik dengan gaya bicara seperti itu. Ingin rasanya ia membawakan sebuah televisi berukuran besar yang tengah menampilkan iklan sebuah merk deterjen dengan slogan berani kotor itu baik, kehadapan teman yang mengoloknya itu. Memangnya kenapa kalau kotor? Di iklan aja bilang, berani kotor itu baik, batin Rani membela diri.

Rani berlari-lari kecil sambil menggumamkan nyanyian dari sebuah band ternama negeri ini, yang sering didengarnya dari televisi, radio, pemutar musik handphone milik kakaknya, penjual vcd bajakan, angkot yang lalu lalang di jalan, hingga pengamen yang genjrang-genjreng di warung-warung yang dilaluinya sepulang sekolah. “Ibu-ibu, Bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu pada teman-temanku karena cuma diriku yang tak laku-laku...” Nyanyian dari bibir mungil itu mengiringi langkah-langkah kecilnya melewati gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk yang berhimpit di sisi-sisi jalan menuju ke sekolahnya.

“Ran, kamu nonton tipi nggak tadi malam?” seorang teman sekolahnya bernama Dara, yang biasa bersamanya meniti jalan menuju sekolah, membuka pembicaraan.

Rani menggeleng. Semalam ia langsung tidur karena mengambek saat sang kakak tidak memperbolehkannya mengganti channel televisi. Kakaknya yang duduk di kelas 2 SMA itu sedang asyik menonton sinetron yang sedang menayangkan adegan romantika remaja dari sepasang artis yang wajahnya sering menghiasi layar kaca. Padahal di channel televisi yang lain, saat itu tengah memutar sebuah film kartun yang sangat ingin ditontonnya.

“Tadi malam aku nonton, ada polisi goyang india lho. Lucu banget, nyanyi chaiyya-chaiyya dia,” lanjut Dara dengan sangat bersemangat sambil sedikit menirukan gaya sang polisi yang ditontonnya semalam.

“Masa’?” tanya Rani memastikan.

“Iya, coba aja nanti pulang sekolah kamu nonton,” wajah Dara sumringah. Sepertinya topik ini akan menjadi pembicaraan seru untuk teman-temannya.

Betul saja, bahkan saat kakinya baru berpijak di gerbang sekolah, suara-suara sumbang milik teman-teman sekolahnya telah ramai mendendangkan lagu chaiyya-chaiyya seperti yang mereka tonton di televisi. Bahkan ada yang lengkap menirukannya hingga ke tarian-tarian khas india. Sontak saja wajah Dara langsung murung. Sebab ternyata ia kalah start. Teman-temannya sudah beraksi terlebih dahulu.

Rani, gadis kecil itu hanya bisa melengos menyaksikan tingkah teman-temannya yang heboh menirukan aksi yang tidak bisa ditontonnya semalam. Jelas ia tidak bisa ikut bergabung karena ia sama sekali tidak memiliki gambaran mengenai si chaiyya-chaiyya tersebut. Beruntung bel masuk segera berbunyi, mengakhiri pertunjukan chaiyya-chaiyya masal pagi itu.

“Selamat pagi anak-anak…” Bu Laras, wali kelas 2 A membuka pelajaran.

“Pagi Buuuu…” jawab anak-anak kompak. Sang ketua kelas langsung memberi aba-aba untuk membaca do’a sebelum pelajaran dimulai. Semua siswa mengikutinya dengan khidmat. Kegiatan seperti ini adalah rutinitas yang terus menerus mereka lakukan setiap paginya. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

“Siapa yang ingat, besok kita akan mengikuti kegiatan apa?” tanya Bu Laras dengan gaya khasnya.

Salah seorang murid perempuan yang duduk di bagian belakang menyahut, “Besok kita Karnaval ‘kan Buuu…?”

“Betul. Besok kita akan mengikuti karnaval memperingati hari Kartini. Siapa yang tau, siapa itu Ibu Kartini?”

“Ibu Kartini itu penjahit di dekat rumah saya, Buuu…” seorang siswa laki-laki yang duduk di ujung kanan bagian belakang kelas menyahut sekenanya. Mengundang tawa siswa dan siswi lainnya. Bu Laras menggeleng dan meminta siswa lain untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang diajukannya.

Rani mengangkat tangannya dan mencoba memberi jawaban, “Kartini itu pahlawan perempuan. Kakakku pernah ikut karnaval hari kartini. Pakai kebaya dan didandani kayak pengantin.”

Bu Laras tersenyum, “Betul, Ibu kita Kartini adalah seorang pahlawan perjuangan perempuan di Indonesia. Besok, kita semua akan memperingati hari kelahirannya dengan mengikuti karnaval yang akan di selenggarakan pihak sekolah. Semua siswa dan siswi wajib mengenakan baju daerah.”

Sementara Bu Laras sibuk menerangkan perihal Kartini kepada murid-muridnya, fikiran Rani malah melayang memikirkan bahwasannya sang kakak, saat mengenakan baju adat itu didandani layaknya pengantin. Matanya diwarnai, ditempelkan bulu mata, bibirnya dipolesi lipstik merah tebal, rambut panjangnya disanggul dan mengenakan sepatu tinggi. Ia menggelengkan kepalanya, tak sanggup membayangkan akan seperti apa wujudnya.

“Berarti dulu Ibu Kartini itu setiap hari berdandan seperti pengantin, ya Bu. Kalau kita harus meneladani Ibu Kartini, berarti kita juga harus pakai kebaya dan berdandan seperti pengantin dong?” kata Rani, polos.

Bu Laras menggeleng. “Bukan seperti itu. Yang harus diteladani adalah perjuangan beliau semasa hidupnya.”

“Berarti boleh dong besok pakai baju adatnya nggak usah pakai didandani kayak pengantin?” celetuk Rani yang segera disanggah oleh seorang temannya.

“Kenapa nggak usah? Didandani itu cantik kok. Kayak artis-artis yang di televisi itu. Aku mau didandani kayak Cinta Laura.”

“Cinta Laura itu ‘kan sudah besar. Makanya boleh berdandan. Kita ini ‘kan masih kecil. Belum boleh didandani kayak pengantin,” Rani mencoba membela diri.

“Memangnya kenapa kalau masih kecil? Ibuku saja bolehin aku pacaran. Padahal aku masih kecil,” sambung temannya yang satu lagi.

Bu Laras mengurut kening. Anak-anak kecil ini semakin berganti masa, semakin mendewasa. Orang tuapun tak kuasa membendung pengaruh zaman yang menyergapi anak-anak mereka. Lebih mengenal lagu dewasa dibanding lagu-lagu anak seusianya. Lebih memilih menonton tayangan dewasa ketimbang tayangan seusianya. Lebih memilih pakaian dengan model yang biasa dikenakan orang dewasa dibandingkan yang dipakai anak seusianya. Bahkan pergaulan orang dewasa pula yang dijadikan panutannya. Kalau dicecoki dengan hal-hal yang seperti itu, lantas akan seperti apa kehidupan anak-anak 5 sampai 10 tahun lagi? bisik batinnya cemas.

Mentari semakin meninggi. Beberapa mata pelajaran yang terjadwal untuk hari ini, berakhir sudah. Satu-persatu siswa dan siswi kembali pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Bu Laras mengantarkan siswa dan siswinya hingga ke gerbang Sekolah. Tertangkap retina matanya, sebuah sarana bermain anak yang marak tersebar di sudut-sudut Kota Minyak, tengah mangkal di pekarangan Sekolah. Jelas terdengar olehnya suara anak-anak yang bernyanyi riang mengikuti lagu yang tengah di putarkan oleh seorang lelaki paruh baya. Lelaki itu menggenjot sepasang pengayuh sepeda yang terpasang pada kerangka yang telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengayun mobil-mobilan dan motor-motoran dibagian depannya mengikuti irama lagu anak-anak tersebut. Orang-orang menyebut sarana bermain itu dengan sebutan Odong-odong.

Kupu-kupu yang lucu, kemana engkau terbang. Hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang. Berayun-ayun. Sambil menari-nari. Tidakkah sayapmu, merasa lelah.

Setitik air mata haru jatuh di pelupuk mata Bu Laras. Baginya, odong-odong tak hanya sekedar sarana bermain anak dan mata pencaharian, tapi lebih dari itu. Odong-odong adalah salah satu pahlawan penyelamat jiwa anak-anak yang telah terenggut oleh zaman. Hati-hati kecil mereka, jiwa-jiwa kecil mereka, menjadi utuh pada usianya. Tidak menjadi siapa-siapa dan tidak mengikuti siapa-siapa.



0 komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak anda di sini ya... :D